Kebijakan pendidikan selalu lahir dari niat baik: meningkatkan mutu pembelajaran dan masa depan anak-anak kita. Namun di lapangan, kebijakan sering kali berhadapan dengan realitas kelas yang jauh lebih kompleks. Di sinilah peran kita bersama guru, pengawas, dan pemangku kebijakan menjadi sangat menentukan: menjembatani gagasan besar dengan praktik sederhana yang bisa dilakukan setiap hari di sekolah.
Salah satu jembatan penting itu bernama decoding.
Decoding: Fondasi yang Sering Terlewatkan. Dalam keseharian di sekolah dasar, tidak sedikit siswa yang sudah “bisa membaca”, tetapi belum tentu memahami apa yang dibaca. Ada pula siswa yang mampu mengerjakan soal hitungan, namun kesulitan menjelaskan cara berpikirnya. Kondisi ini sering luput dari perhatian karena pembelajaran terlihat berjalan normal.
Padahal di situlah decoding bekerja.
Decoding adalah kemampuan memahami makna dari huruf, kata, angka, dan informasi. Ia bukan istilah teknis yang rumit, melainkan proses sederhana: apakah anak benar-benar paham? Tanpa decoding yang kuat, pembelajaran berisiko hanya menjadi rutinitas, bukan proses pemaknaan.
EGRA dan EGMA: Membaca Kondisi Nyata, Bukan Menghakimi
Pemerintah telah memperkenalkan EGRA dan EGMA melalui Platform Merdeka Mengajar sebagai bagian dari penguatan literasi dan numerasi. Instrumen ini sejatinya bukan untuk menilai atau memberi label, tetapi membantu guru dan pengawas membaca kondisi riil siswa secara jujur dan utuh.
Bagi pengawas, EGRA dan EGMA menjadi alat decoding pembelajaran: membaca apa yang sebenarnya terjadi di kelas, bukan hanya apa yang tertulis di laporan.
Dengan data sederhana namun akurat, sekolah dapat menyusun langkah perbaikan yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Pembelajaran Mendalam Dimulai dari Pemahaman Dasar
Gagasan pembelajaran mendalam (deep learning)
yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah adalah arah yang
sangat tepat. Kita ingin anak-anak berpikir kritis, reflektif, dan kreatif.
Namun pembelajaran mendalam tidak lahir dari lompatan besar, melainkan dari
langkah kecil yang kokoh.
Decoding adalah langkah kecil itu.
Ketika siswa memahami bacaan, mengerti makna soal, dan mampu menjelaskan proses berpikirnya, di situlah pembelajaran mendalam mulai tumbuh secara alami bukan dipaksakan.
Peran Guru dan Pengawas: Menyederhanakan, Bukan Membebani
Agar kebijakan pusat dapat berjalan baik, guru
dan pengawas perlu memposisikan diri sebagai pendamping pembelajaran, bukan
sekadar pelaksana administrasi. Decoding membantu kita menyederhanakan fokus:
memastikan pemahaman sebelum melangkah lebih jauh.
Pengawas tidak sedang menambah program, melainkan menguatkan program yang sudah ada agar lebih bermakna. Guru pun tidak dituntut metode baru yang rumit, cukup mengajak siswa menjelaskan, menceritakan kembali, dan memahami.
Menjaga Keberlanjutan Kebijakan
Kebijakan pendidikan akan berkelanjutan jika: mudah dipahami relevan dengan kebutuhan lapangan, dan memberi dampak nyata bagi siswa.
Decoding membantu menjaga keberlanjutan itu.
Ia membuat kebijakan tidak berhenti di dokumen, tetapi hidup di kelas, tumbuh
bersama guru, dan dirasakan oleh siswa.
Penutup:
Menguatkan dari Dasar
Pendidikan yang kuat tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia tumbuh dari kesediaan kita untuk memahami anak-anak secara lebih dalam. Dengan menguatkan decoding melalui langkah sederhana seperti EGRA dan EGMA, kita sedang menyiapkan jalan agar pembelajaran mendalam benar-benar terjadi. Bukan sekadar sesuai kebijakan, tetapi sesuai kebutuhan anak.