Langsung ke konten utama

Decoding yang Tenggelam, Coding yang Terangkat: Sebuah Catatan tentang Arah Penguatan Kompetensi Siswa


oleh:
Ruwaidah Idrus Aliyu, S.Pd.


       Dalam perjalanan kebijakan pendidikan beberapa tahun terakhir, istilah decoding sebenarnya bukan istilah baru. Konsep ini telah diperkenalkan secara implisit melalui berbagai kebijakan penguatan literasi dan numerasi, termasuk dalam Platform Merdeka Mengajar (PMM), khususnya melalui pelaksanaan EGRA (Early Grade Reading Assessment) dan EKMA (Early Grade Mathematics Assessment).

Namun harus diakui, meskipun telah diperkenalkan, decoding belum sempat benar-benar populer, belum menjadi fokus utama perhatian guru dan tenaga kependidikan, serta belum dipahami sebagai kompetensi kunci dalam penguatan pembelajaran dasar.

Pada saat decoding masih berada pada tahap pengenalan dan adaptasi, terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat nasional. Bersamaan dengan itu, muncul istilah baru yang lebih segar, futuristik, dan menarik perhatian publik, yaitu coding. Dalam waktu relatif singkat, coding justru menjadi istilah yang paling populer, dibicarakan di berbagai forum, dan dipersepsikan sebagai simbol kesiapan pendidikan menghadapi masa depan.

Di sinilah ironi itu muncul.


Decoding EGRA–EKMA dalam Platform Merdeka Mengajar

Dalam Platform Merdeka Mengajar, guru sebenarnya telah diarahkan untuk:

  • Melaksanakan asesmen literasi dan numerasi awal melalui EGRA dan EKMA,
  • Membaca hasil asesmen tersebut,
  • Menggunakan hasilnya sebagai dasar refleksi dan tindak lanjut pembelajaran.

Proses ini pada hakikatnya adalah decoding, yaitu membaca dan memahami makna data asesmen secara mendalam untuk mengetahui kondisi nyata kemampuan siswa.

Namun karena istilah decoding tidak ditegaskan sebagai konsep utama, maka dalam praktiknya:

  • Banyak guru melakukan decoding tanpa menyadari bahwa itulah decoding,
  • Fokus guru sering berhenti pada pengisian dan pelaporan hasil asesmen,
  • Proses membaca makna data belum berkembang sebagai kebiasaan profesional.

Dengan kata lain, PMM telah menyediakan ruang decoding, tetapi pemaknaan dan penguatan praktik decoding belum menjadi fokus perhatian utama.


Decoding yang Penting, tetapi Tidak Populer

Decoding sesungguhnya adalah kompetensi dasar yang menopang seluruh proses belajar. Decoding tidak berbicara tentang teknologi atau kecanggihan, melainkan tentang kemampuan memahami makna: memahami teks, angka, simbol, instruksi, dan data pembelajaran.

Tanpa decoding yang kuat:

  • Siswa bisa membaca lancar, tetapi tidak memahami isi bacaan,
  • Siswa bisa menghitung, tetapi tidak memahami makna bilangan,
  • Siswa bisa mengerjakan soal, tetapi tidak mampu menjelaskan proses berpikirnya.

Karena decoding tidak tampak “menarik” dan tidak mudah dikemas sebagai inovasi, ia kurang mendapat panggung, meskipun justru paling menentukan kualitas pembelajaran.


Coding yang Cepat Terangkat

Sebaliknya, coding hadir dengan citra masa depan: teknologi, logika, dan keterampilan abad ke-21. Coding penting dan relevan. Namun persoalan muncul ketika coding didorong lebih dahulu, sementara fondasi decoding belum kokoh.

Di lapangan, sering dijumpai kondisi:

  • Siswa belajar coding, tetapi belum lancar membaca instruksi,
  • Siswa menyusun perintah, tetapi tidak memahami makna simbol,
  • Pembelajaran coding berlangsung prosedural dan mekanis.

Dalam situasi ini, coding berisiko menjadi aktivitas simbolik, bukan pembelajaran bermakna.


Pergeseran Fokus yang Perlu Diluruskan

Decoding dan coding seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan ditempatkan secara berjenjang dan proporsional:

  • Decoding sebagai fondasi pemahaman
  • Coding sebagai penguatan dan pengembangan

Tanpa decoding, coding kehilangan makna. Tanpa pemahaman, inovasi menjadi rapuh.


Himbauan untuk Guru dan Pengawas

Sehubungan dengan hal tersebut, disampaikan beberapa himbauan:

  1. Guru diharapkan memprioritaskan pemahaman siswa, bukan sekadar capaian nilai atau penyelesaian administrasi.
  2. Pengawas sekolah diharapkan menguatkan peran decoding, terutama dalam membaca hasil EGRA dan EKMA sebagai dasar penyusunan program pendampingan.
  3. Setiap inovasi pembelajaran, termasuk coding, perlu dibangun di atas kesiapan literasi dan numerasi siswa.
  4. Decoding perlu dibiasakan sebagai praktik sadar dalam membaca hasil asesmen dan menentukan tindak lanjut.
  5. PMM perlu dimanfaatkan tidak hanya sebagai platform belajar, tetapi juga sebagai alat refleksi pembelajaran berbasis data nyata.

Himbauan ini dimaksudkan sebagai penguatan profesionalisme, bukan sebagai tambahan beban bagi guru dan pengawas.


Penutup

Decoding mungkin tidak sepopuler coding. Ia tidak terdengar futuristik dan tidak mudah dijadikan slogan. Namun justru di situlah kekuatannya. Decoding memastikan bahwa setiap kebijakan, program, dan inovasi pembelajaran berdiri di atas pemahaman yang kokoh.

Jika pendidikan ingin benar-benar memperkuat kompetensi siswa, maka decoding perlu diangkat kembali ke permukaan, disederhanakan bahasanya, dan diperkuat praktiknya. Coding akan tetap penting, tetapi hanya akan bermakna jika dibangun di atas fondasi decoding yang kuat.

Postingan populer dari blog ini

Pengukuhan Pengurus KKG dan FORUM KELAS

Pengawas Pembina Pulubala –  Pada hari Sabtu, tanggal 7 Juli 2018, Jajaran Dinas Dikbud Kecamatan Pulubala melakukan pengukuhan pengurus KKG dan Forum Kelas  masa bakti 2018 – 2022 yang bertempat di Aula Dikbud Kecamatan Pulubala. Acara pengukuhan tersebut merupakan rangkaian kegiatan lanjutan setelah diadakannya Musyawarah yang telah pada tanggal 6 Juli 2018.. Dalam kesempatan itu hadir Korwil Dikbud Kecamatan, Pengawas dan Ketua KKKS. Dalam sambutannya Korwil Dikbud Kecamatan Pulubala menyampaikan bahwa pengukuhan pengurus KKG dan Forum Kelas.Ini tentunya akan lebih fokus dan merata informasi tentang inovasi dan tupoksi pendidikan di Kecamatan Pulubala. Selanjutnya, Korwil Dikbud   berpesan agar pengurus dan anggota KKG & Forum Kelas   senantiasa lebih giat bekerja dengan orientasi kekinian, dan inovatif dalam rangka memberikan   layanan pendidikan yang berkulitas yang akhirnya bermuara pada peningkatan mutu pendidikan di wilayah kita Peng...

Forum Kelas Siap dengan” PERANGKAT PEMBELAJARAN” diawal tahun 2018/2019.

Pengawas Pembina SD Wilayah Kecamatan Pulubala memberi apresiasi kepada Forum Kelas yang dengan maraton menyel e saikan perangkat pembelajaran sehingga hari pertama masuk sekolah seluruh guru telah siap mengajar, sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa pada tanggal 2 s.d 7 Juli 2018 seluruh guru mengikuti “Bimtek”   dan dilanjut kegiatan dengan Forum Kelas untuk menyelesaikan “Perangkat Pembelajaran” sampai dengan hari ini jumat (13/7) sudah mencapai 95%. Capaian ini tidak lepas dari pendampingan kami berdua (Ibu Sumiaty Bahoea,S.Pd dan Ibu Ruwaidah Aliyu,M.Pd) selaku pengawas Pembina di wilayah ini.Selain itupula dukungan sepenuhnya dari   Ibu Korwil Dikbud Kecamatan Pulubala, Ketua KKKS Bapak Anis Nuna, dan seluruh Kepala Sekolah. Perangkat pembelajaran  merup a kan bagian dari perencanaan pembelajaran yang   dirancang dalam bentuk silabus , RPP dan lainnya yang mengacu pada standar isi. Selain itu dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan...

RPP SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2018-2019

Teman -teman guru berikut ini adalah draf RPP untuk semester 2 untuk dapat dijadikan referensi Perhatian untuk mengunduh/ mendownload harus menggunakan laptop/ komputer PC RPP Kelas 1 Semester 2  Tema 5  UNDUH DISINI RPP Kelas 1 Semester 2  Tema 6  UNDUH DISINI RPP Kelas 1 Semester 2  Tema 7  UNDUH DISINI RPP Kelas 1 Semester 2  Tema 8  UNDUH DISINI RPP Kelas 2 Semester 2  UNDUH RPP Kelas 3 Semester 2  UNDUH RPP Kelas 4 Semester 2   UNDUH RPP Kelas 5 Semester 2  UNDUH RPP Kelas 6 Semester 2   UNDUH